“SUARA MERDU ANAK-ANAK, CAHAYA QUR’AN YANG MENYAPA SIDOREJO”
- Aug 19, 2025
- Lister Anggun Cahyanto
KIM SIBEJO - Sidorejo – Senyum malu-malu, tangan mungil yang sesekali gemetar, namun lantunan ayat suci terdengar begitu indah. Itulah suasana penuh haru yang tercipta dalam Lomba Tartil Qur’an Usia Dini yang digelar di Desa Sidorejo.
Sejak pukul 19.00 WIB, balai desa dipenuhi semangat para orang tua yang mendampingi buah hati mereka. Anak-anak, dengan baju muslim rapi dan kopiah kecil di kepala, bergantian maju ke depan dewan juri. Suara polos mereka membacakan ayat demi ayat bukan sekadar kompetisi, melainkan pengingat bahwa cinta Al-Qur’an dapat tumbuh sejak usia belia.Senin,(11/08/25).
Kepala Desa Sidorejo, Bapak Drs.Heru Subiantoro, yang hadir langsung dalam acara tersebut memberikan apresiasi tinggi. “Kami bangga dengan semangat anak-anak kita. Inilah generasi Qur’ani yang kelak akan membawa nama baik desa. Pemerintah desa siap mendukung kegiatan positif seperti ini agar terus berlanjut,” tuturnya dalam sambutannya.
Di barisan kursi penonton, para orang tua tampak tak kalah tegang. Ada yang terus membisikkan doa, ada pula yang tersenyum bangga meski anaknya salah melafalkan huruf. Semua hadir bukan semata mengejar piala, tetapi memberi ruang bagi anak-anak mereka untuk tumbuh dalam lingkungan yang mencintai kitab suci.
“Rasanya campur aduk, senang sekaligus bangga. Anak-anak sudah berani tampil di depan banyak orang, itu sudah menjadi kemenangan tersendiri,” ungkap Siti, salah satu wali peserta, sambil mengusap lembut kepala putranya.
Panitia lomba menuturkan, kegiatan ini bukan hanya ajang mencari juara, tetapi juga sarana membangun generasi Qur’ani. “Kami ingin anak-anak terbiasa dekat dengan Al-Qur’an sejak dini, karena dari sanalah lahir akhlak mulia,” ujar salah seorang ustaz pembimbing.
Momen paling mengharukan adalah ketika peserta termuda, yang baru berusia lima tahun, dengan suara lirih mencoba melafalkan ayat-ayat pendek. Sontak, hadirin memberi tepuk tangan penuh apresiasi, bahkan beberapa mata tak kuasa menahan haru.
Lebih dari sekadar lomba, acara ini menyatukan keluarga, guru, dan masyarakat dalam semangat mencintai Al-Qur’an. Anak-anak bukan hanya tampil sebagai peserta, tapi juga sebagai cahaya kecil yang menebarkan kesejukan iman bagi siapa pun yang mendengarnya.
Lomba tartil Qur’an usia dini di Sidorejo bukan hanya tentang siapa yang juara, melainkan tentang bagaimana sebuah desa bersama-sama merawat cahaya kecil yang akan menerangi masa depan. Anak-anak yang hari ini membaca dengan suara terbata-bata, suatu saat akan tumbuh menjadi generasi yang fasih, berakhlak, dan membawa keberkahan bagi lingkungannya. KIM SiBejo/Lyster.